Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak. Rumah adalah ruang pertama tempat anak belajar tentang kasih sayang, adab, iman, dan rasa aman. Dalam ungkapan yang sering kita dengar, baiti jannati yang berarti rumahku adalah surgaku. Namun hari ini, tanpa disadari, banyak rumah justru berubah menjadi awal dari kerusakan karakter bagi seorang anak.
Kerusakan yang banyak itu tidak selalu lahir dari keluarga yang jauh dari agama. Banyak anak tumbuh di lingkungan yang agamis. Ayahnya aktif di masjid, ibunya menjaga aurat, dan anaknya disekolahkan di pesantren. Anak terlihat santun, hafal beberapa juz Al-Qur’an, serta dikenal baik di lingkungan masyarakat. Namun di balik pintu kamar yang tertutup dan layar gawai yang menyala hingga larut malam, kehancuran perlahan menggerogoti jiwanya.
Seorang anak bisa mengenal pornografi sebelum memahami makna menjaga pandangan. Seorang anak bisa akrab dengan judi online sebelum memahami keberkahan rezeki, bahkan seorang anak bisa tenggelam dalam dunia digital yang gelap, sementara orang tuanya merasa tenang karena berpikir bahwa pesantren sudah cukup menjaga semuanya.
Padahal pesantren bukanlah pengganti peran orang tua. Banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah atau pesantren. Banyak orang tua merasa tugas mendidik selesai ketika anak sudah berada di lingkungan agama. Padahal tarbiyah bukan hanya soal tempat belajar, melainkan tentang bagaimana rumah menjadi tempat bertumbuhnya nilai dan akhlak.
Imam Al-Ghazali menjelaskan di dalam kitab Ihya Ulumuddin bahwa hati anak ibarat permata yang bersih dan siap dibentuk ke arah mana pun. Anak yang dibiasakan kepada kebaikan akan tumbuh baik. Sebaliknya, anak yang dibiarkan tanpa pengawasan akan dibentuk oleh lingkungannya sendiri.
Lingkungan yang paling kuat hari ini adalah internet. Dunia digital masuk ke rumah tanpa permisi, konten-konten buruk hadir melalui layar kecil yang setiap hari berada di tangan anak-anak kita. Sayangnya, banyak rumah kehilangan kehangatannya sebelum akhirnya menyusul kemudian kehilangan anaknya.
Seorang ibu mungkin berada di rumah setiap hari, tetapi sibuk dengan urusannya sendiri. Seorang ayah mungkin bekerja keras mencari nafkah, tetapi jarang memberikan waktu dan perhatian. Seorang anak memiliki kamar sendiri, gawai sendiri, dan akses internet sendiri, tetapi tidak memiliki ruang dialog yang sehat dengan orang tuanya.
Banyak orang tua mengira anaknya baik-baik saja karena anak terlihat pendiam dan tidak banyak masalah. Banyak orang tua mengira anaknya sedang belajar ketika ia berdiam lama di dalam kamar. Padahal bisa jadi saat itu jiwanya sedang rusak perlahan-lahan, relakah bapak/ibu membiarkan anaknya terombang ambing dalam ketidakpastian.
Fakta nyata dari pornografi yang tidak langsung menghancurkan tubuh, tetapi menghancurkan cara berpikir dan kesucian hati. Judi online dan game tidak langsung membuat anak jatuh miskin, tetapi merusak mental instan dan melahirkan kecanduan. Konten-konten digital yang buruk perlahan mematikan rasa malu, mengikis iman, dan membuat anak hidup dalam dua wajah.
Banyak anak terlihat alim di pesantren, tetapi kembali menjadi dirinya yang berbeda ketika berada di luar lingkungan pendidikan. Banyak anak menjadikan agama hanya sebagai identitas luar, bukan nilai yang hidup di dalam hati. Inilah kerusakan yang paling berbahaya karena si anak sudah paham sebetulnya mana yang benar dan man ayang slah namun kalah oleh hawa nafsunya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis tersebut menjelaskan bahwa tanggung jawab orang tua bukan sekadar memberi makan dan menyekolahkan anak. Tanggung jawab orang tua juga mencakup perhatian, pengawasan, dan kedekatan emosional anaknya agar kelak menjadi insan yang kamil.
Banyak ibu mengetahui jadwal pelajaran anaknya, tetapi tidak mengetahui isi pikirannya. Banyak orang tua mengetahui nilai rapor anaknya, tetapi tidak mengetahui apa yang ditonton anaknya. Banyak orang tua bangga karena anaknya mondok, tetapi tidak menyadari bahwa anaknya sedang kecanduan sesuatu yang merusak jiwanya.
Kerusakan pada zaman ini tidak lagi datang dari jalanan semata. Kerusakan masuk melalui gawai yang berada di genggaman anak-anak. Karena itu, rumah tidak cukup hanya menjadi tempat tinggal. Rumah harus kembali menjadi tempat pulang yang menghadirkan kenyamanan, perhatian, dan pendidikan.
Seorang anak membutuhkan rumah yang membuatnya merasa didengar. Seorang anak membutuhkan orang tua yang mau mendengar ceritanya tanpa menghakimi. Seorang anak membutuhkan kasih sayang yang cukup agar ia tidak mencarinya di tempat yang salah. Banyak anak-anak yang nongkrong hingga berganti hari hanya karena merasa nyaman curhat kepada teman yang dia anggap setia bahkan mengalahkan posisi ayah dan ibu yang dicapnya sebelah mata.
Para ahli psikologi keluarga menjelaskan bahwa kedekatan emosional antara anak dan orang tua sangat memengaruhi pembentukan karakter dan kontrol diri anak. Anak yang tumbuh tanpa perhatian emosional cenderung mencari pelarian pada hal-hal yang memberikan kesenangan instan, termasuk kecanduan digital dan perilaku menyimpang.
Tarbiyah sejati bukan hanya tentang memasukkan anak ke pesantren terbaik. Tarbiyah sejati adalah tentang bagaimana orang tua tetap hadir setelah anak pulang ke rumah. Ayah harus menjadi teladan. Ibu harus menjadi sahabat bagi anak-anaknya, keduanya harus saling bekerja sama dengan Ikhlas dengan niatan mendidik generasi yang rabbanni.
Ironinya banyak anak tinggal di rumah mewah, tetapi jiwanya kesepian. Banyak anak belajar agama, tetapi kehilangan arah hidup. Banyak anak terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang meminta pertolongan dalam diam. Di dalam hatinya padahal berdesis ayah, ibu tolong aku!, jalan mana yang harus kutempuh?.
Karena itu, saya ingin mengajak seluruh orang tua, baik ayah maupun ibu, agar tidak lengah terhadap penggunaan gawai anak-anaknya. Orang tua jangan merasa semuanya aman hanya karena anak terlihat kalem, mondok, atau berasal dari lingkungan agama. Kerusakan terbesar hari ini sering datang dari sesuatu yang setiap hari berada di tangan mereka.
Orang tua perlu memeriksa dengan bijak apa yang dilihat anaknya, siapa yang diikutinya di media sosial, aplikasi apa yang digunakannya, dan bagaimana aktivitas digitalnya, apa isi chat dengan temannya. Orang tua juga perlu lebih waspada ketika anak selesai masa liburan dan kembali ke pesantren. Banyak perubahan buruk justru muncul setelah anak terlalu bebas menggunakan gawai selama liburan tanpa pengawasan.
Pengawasan bukan berarti tidak percaya kepada anak. Pengawasan adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab. Orang tua lebih baik lelah mengawasi daripada menyesal di kemudian hari. Anak-anak hari ini tidak cukup hanya diberi nasihat. Anak-anak juga membutuhkan pengawasan yang nyata. Dunia digital terlalu mudah merusak jika anak dibiarkan menghadapinya sendirian.
Orang tua perlu mulai membuat aturan penggunaan gawai di rumah. Orang tua perlu menghadirkan waktu tanpa handphone saat makan bersama. Orang tua perlu membangun kebiasaan berdialog dan mendengarkan cerita anak-anaknya. Jangan sampai gawai merubah segalanya yang tadinya baik menjadi licik.
Karakter anak tidak dibentuk dalam satu ceramah. Karakter anak dibentuk dari suasana rumah setiap hari. Karakter anak tumbuh dari obrolan sederhana saat makan malam, dari pelukan ibu yang tulus, dari ayah yang mau mendengar, dari batasan yang jelas terhadap penggunaan gawai, dan dari doa-doa yang terus dipanjatkan di sepertiga malam oleh orang tuanya.
Pesantren adalah tempat yang mulia. Sekolah adalah sarana yang penting. Namun benteng pertama dan terakhir tetaplah rumah. Jika rumah gagal menjadi tempat tumbuhnya iman, maka dunia luar akan dengan mudah mengambil alih peran itu. Dan saat itulah, tanpa sadar, mala petaka itu kita sebut rumah.
Oleh: Muhammad Raihan Alghiffary, S.P., M.Pd
Staf Kesantrian Putra Pesantren Al Husna Jonggol

