Suatu sore seorang ayah dengan bangga menunjukkan rapor anaknya. Nilainya hampir sempurna. Matematika tinggi, sains memuaskan, bahasa pun tak kalah baik. Namun di balik itu, ada satu hal yang luput dari perhatiannya yaitu anak itu mulai sulit menghormati orang lain, menjauh dengan orang tua, mudah marah, dan kurang peduli terhadap sekitarnya. Kita sering terjebak pada satu ukuran keberhasilan yaitu “Nilai akademik”. Padahal, mendidik anak bukan hanya tentang angka, tapi tentang arah hidup hingga akhiratnya.
1. Terlalu Fokus pada Nilai, Lupa dengan Adab
Banyak orang tua merasa tenang ketika anaknya pintar secara akademik. Usaha dengan les tambahan, target ranking, hingga tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik menjadi hal yang biasa. Namun, tanpa disadari, adab dan karakter yang utama justru tertinggal.
Dalam perspektif pendidikan modern, Thomas Lickona seorang pemerhati pendidikan berkarakter menegaskan bahwa pendidikan yang utuh harus mencakup pengetahuan, sikap, dan tindakan moral. Artinya, kecerdasan tanpa karakter bukanlah tujuan akhir Pendidikan itu sendiri.
Islam bahkan lebih tegas, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Nilai bisa membuat anak diterima di sekolah terbaik, namun adab yang baik akan membuatnya diterima di mana pun dia berada.
2. Mementingkan Fasilitas, Lupa Lingkungan Tumbuh
Orang tua tidak sedikit yang rela mengeluarkan biaya besar untuk sekolah terbaik, gadget boba terbaru, dan fasilitas lengkap. Semua dilakukan demi masa depan anak. Tapi ada satu hal yang sering luput dari ayahanda dan bunda yaitu “lingkungan tempat anak tumbuh setiap hari”.
Anak bukan hanya belajar dari apa yang diajarkan, tapi dari apa yang dia lihat. Albert Bandura yang merupakan psikolog dan penggagas teori kognitif melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi dan peniruan yang dia lihat secara langsung dalam kehidupannya sehari-hari.
Dalam Islam pun diingatkan: “Seseorang tergantung agama temannya.” (HR. Abu Dawud). Fasilitas bisa mendukung perkembangan anak, namun lingkunganlah yang menentukan arah hidupnya.
3. Menganggap Anak sebagai Tanggung Jawab Rutinitas, Bukan Amanah
Kesalahan terakhir adalah cara pandang. Banyak orang tua melihat anak sebagai tanggung jawab sesuatu yang harus dipenuhi kebutuhannya. Selama makan tercukupi, sekolah terpenuhi, dan kebutuhan tersedia, maka tugas dianggap telah selesai. Padahal dalam Islam, anak adalah Amanah yang merupakan sebuah titipan dari Allah yang akan dimintai pertanggungjawaban lebih dari itu.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat ke-6 tentang kewajiban menjaga keluarga dari keburukan. Ini bukan hanya soal memenuhi kebutuhan dunia, tapi menjaga arah hidup anak hingga akhiratnya.
Terdapat perbedaannya sangat mendasar pada tanggung jawab yang dapat berhenti pada “sudah dilakukan” sedangkan amanah berlanjut pada “akan dipertanggungjawabkan”.
Penutup
Mendidik anak bukan perkara mudah. Tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, kesadaran adalah langkah awal. Bukan berarti nilai tidak penting, fasilitas tidak dibutuhkan, atau tanggung jawab harus ditinggalkan. Semua tetap penting. Tapi yang lebih penting adalah menempatkan semuanya pada porsi yang tepat.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan hanya “seberapa pintar anakmu?” Tapi juga “menjadi siapa anak itu karena didikanmu?”
Jika hari ini kita mulai sadar bahwa anak adalah amanah, maka langkah berikutnya adalah memilih lingkungan terbaik untuk tumbuhnya. Lingkungan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menanamkan adab, menjaga pergaulan, dan membentuk karakter. Pertanyaan penulis sudahkah kita memilih tempat yang tepat untuk masa depan anak kita?
Oleh: Muhammad Raihan Alghiffary, M.Pd
Staff kesantrian Ponpes Al Husna Jonggol


